Rabu, 10 Juni 2015

SELFI MENANTANG MAUT

Di abad yang ke 21 ini kemajuan teknologi namapaknya semakin canggih. Khususnya teknologi dalam dunia komunkikasi. Dari tahun ke tahun kemajuan alat komuinikasi seperti telepon genggam semakin mengalamai perubahan kearah yang lebih baik. Fitur-fitur yang ada di telepon gengam ini semakin bertambah. Dengan adanya pertambahan fitur dalam telepon gemgam ini semakin banyak fungsi dari pada kegunaan telepon gemgam itu sendiri. Sehingga telepon gemgam saat ini tidak hanya digunakan untuk menelfon dan mengirim pesan singkat atau yanga sering kita sebut sent message service (SMS), namun lebih dari itu bisa sebagai alat pencari informasi yang ada di dunia ini, alat dokumentasi data yang kita miliki,media sosial yang lebih luas jangkauannya dan masih banyak lagi.
Dengan adanya kemajuan tegnologi komunikasi khususnya telepon genggam ini, sayangnya kurang dimanfaatkan oleh pengguna. Mereka kebanyakan hanya mencari kepuasan diri tanpa mementingkan kebutuhan yang seharusnya dia dapatkan dari pemanfaatan telepon genggamnya. Seperti yang sudah dibahas dalam paragraf pertama bahwasaannya telepon genggam mengalami penambahan fitur khususnya di media sosial. Para pengguna telepon gengam ini mengalihkan fungsi dari yang seharusnya sebagai alat komunikasi menjadi media narsisme yang di publikasikan ke media sosial seperti face book, twitter, instagram dan media sosial lainnya.
Ajang narsisme di media sosial sepertinya sudah menjadi life style jaman sekarang. Tak mengherankan jika kita menemukan seseorang yang sedang memoto dirinya sendiri yang sering kita sebut selfi di tempat umum, seperti acara penting contohnya upacara kenegaraan atau upaca pernikahan. Karena selfi memang sudan tren di kalangan anak kecil hingga orang dewasa. Kebanyakan orang jaman sekarang lebih mengedepankan kepuasan diri. Jika foto dirinya sudah terpampang di media sosial kemudian banyak orang yang melihatnya, maka dirinya akan merasa bangga.
Kasus kematian akibat selfie selama ini telah kita jumpai di berbagai belahan dunia. Hal ini menunjukan bahwa selfie merupakan kebutuhan khusus yang harus di lakukan oleh manusia jaman sekarang. Mereka mengesampingkan keselamatan jiwanya dari pada meninggalkan moment yang dia anggap penting yang di abadikan dalam bentuk foto. Mereka akan merasa tidak puas jika pengalaman hidup saat itu terlewatkan tanpa berfoto. Seperti kasusnya Eri Yunanto (21) mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini terpeleset ke Kawah Merapi ketika ber-selfie-ria. Eri terpeleset dan jatuh pada sabtu siang, 16 Mei 2015. Eri meninggal karena terjatuh dari tebing merapi hingga masuk ke bibir kawah pada saat dirinya ingin mengambil gambar dirinya. Kasus serupa juga di alami oleh sekelompok remaja di California yang di ambil di situs Liputan6.com, mereka mengalami nasib yang naas saat melakukan perjalanan dengan sebuah mobil. Dari Liputan 6 yang yelansir laman Autoevolution, Jumat (22/5/2015) sekelompok remaja ini melakukan selfie dengan menggunakan tongsis ketika mobil sedang melaju. Diduga para remaja ini mengisi waktu perjalanannya dengan bernyanyi bersama di dalam mobil tersebut. Saking asiknya bernyanyi membuat si pengemudi tidak fokus ketika berkendara. Bahkan, ia tidak sadar jika salah satu ban mobilnya pecah saat melaju pada kecepatan 113 km/jam.Mobil pun mengalami hilang kendali hingga akhirnya  terguling. Namun begitu, si pengemudi masih sempat memindahkan gigi ketika mobil dalam posisi terbalik. Ini membuktikan bahwasaannya selfi itu lebih penting dari pengalaman hidup yang mereka dapatkan.
Sebenarnya mereka yang berani menaruhkan hidupnya hanya untuk  selfi adalah mereka yang ingin mengambil pemandangan indah yang mungkin orang lain sulit untuk mendapatkan seting tersebut. Mereka tidak sadar bahwa tempat yang dia abadikan dalam gambar itu sangat berbahaya. Karena keinginan yang kuat untuk mendapatkan foto dirinya dalam lokasi yang berbahaya membuat dirinya tidak memperhatikan keslamatan dirinya.
Dari kasus kematian yang diakibatkan dengan adanya selfi seharusnya pengguna telepon genggam atau gadged lain yang bisa di gunakan untuk mengambil gambar bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan hanya mengedepankan gaya hidup saja apa bila nyawa menjadi taruhanya. Gunakan telepon genggam itu dengan bijak. Karena sebenarnya, telepon genggam itu mempunyai manfaat yang besar, yaitu mempermudahkan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain juga untuk mempermudah pencarian info yang ingin kita dapatkan. Dan jangan gunakan telefon genggam yang sudah canggih itu mengantarkanmu ke kematian yang tragis, seperti kasus-kasus yang sudah ada saat ini.

Kamis, 05 Maret 2015

Pengaruh Pendidikan yang Otoriter Terhadap Belajar Anak

Pendidikan di dalam keluarga sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan belajar anak. Meskipun anak sudah mendapatkan pendidikan di luar rumah, baik di sekolah maupun di masyarakat, namun keluargalah yang memiliki peran terpenting. Keluarga juga berhak menentukan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Dari sekian banyak pendidikan yang diterapkan oleh  orangtua, masih ada cara mendidik mereka yang keliru.

Pendidikan otoriter yaitu pendidikan atau cara mendidik anak dengan terlalu memanjakan anak dan terlalu memberi cacian dan makian kepada anak. Banyak yang menyebutkan pendidikan tersebut  sangat keliru. Diantara mereka menyatakan bahwa dengan menerapkan pendidikan yang otoriter akan membuat anak terlalu manja dan menjadi keras kepala, sehingga dalam proses belajar mengajar di sekolah pun mengalami sedikit keterhambatan. Pasalnya, dengan terlalu memanjakan anak, dalam belajar anak tidak mau berpikir keras dan mudah putus asa bahkan yang lebih parah lagi anak hanya mengandalkan bantuan teman, orangtua, atau guru mereka. Sedangkan dengan terlalu keras terhadap anak, mereka cenderung menjadi pembangkang dan seenaknya sendiri.

Mereka mengatakan untuk proses dan hasil belajarnya tidak semua seperti itu, sebagian ada yang baik dan ada yang buruk. Akan tetapi, anak-anak cenderung mau melakukan sesuatu hal apabila mereka sudah disuruh berkali-kali dan setelah mendapatkan cacian dan makian, termasuk belajar.

Beberapa orang tua yang menerapkan pendidikan otoriter bagi anaknya mengatakan bahwa mereka melakukan itu karena rasa sayang mereka kepada anaknya. Ada juga yang memberi alasan karena mereka anak tunggal, kasihan kepada anaknya jika mereka terlalu keras mendidiknya, dan ada juga yang mengatakan agar anak mereka kapok dan menjadi penurut. Meskipun mereka tahu bahwa ada perilaku anak mereka yang tidak diharapkan juga pendidikan yang mereka terapkan dapat menghambat belajar anak dan itu pun juga terjadi terhadap anak-anak mereka.

Sebenarnya, untuk menjadikan anak lebih mandiri dan sukses dalam belajar, orangtua perlu memberikan kebebasan dan kesempatan kepada anak untuk meraih maupun menentukan apa yang diinginkannya. Hal itu dapat dilakukan dengan tidak terlalu memanjakan anaknya dan tidak terlalu memberikan kekerasan yang diarahkan kepada anak. Orangtua hanya bertugas untuk membimbing, mengajarkan, mendidik, dan melatih anak dengan sewajarnya, sehingga dapat memberikan peluang bagi anak untuk berusaha dan berpikir untuk melakukannya sendiri, apa yang baik dan apa yang buruk untuknya.


by, Nurul Faridah